Tang-ting-tung, Sebelum Berhaji Yuk Nabung

Sahabat Ummi, biaya haji di Indonesia memang termasuk mahal. Bahkan lebih mahal dari Malaysia dan Filipina. Namun minat untuk berhaji tak pernah berkurang.

Berbeda dengan kecenderungan biaya haji di tahun-tahun sebelumnya yang selalu naik, Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) di tahun 2016 mengalami penurunan dari tahun lalu. Pada Mei lalu,Kementerian Agama dan Komisi VIII DPR RI menyepakati BPIH untuk haji reguler 1437H/2016 rata-rata sebesar Rp34.641.304 per orang.

Beda Haji Plus dan Haji Reguler
Ibadah haji dapat dilakukan melalui haji reguler dan haji plus, yang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Secara syariat, tata cara haji regular dan haji plus sama, lalu apa yang membedakan keduanya?
  1.       Penyelenggara
Haji reguler diselenggarakan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama Republik Indonesia. Sementara haji plus/khusus bermula dari pelayanan haji reguler yang dianggap kurang memuaskan sehingga beberapa biro penyelenggara haji swasta membuka haji plus.

  1.       Biaya
Perbedaan haji reguler dan plus adalah dari besaran biaya yang harus dikeluarkan calon jamaah haji. Biaya haji plus tiga kali lebih mahal dari haji reguler karena perbedaan fasilitas yang cukup signifikan.

  1.       Masa tunggu
Tiap daerah atau provinsi mempunyai masa tunggu keberangkatan haji yang berbeda, tergantung pada jumlah pendaftar dan kuota tiap daerah untuk setiap kali keberangkatan. Untuk DKI Jakarta, masa tunggu keberangkatan haji reguler diperkirakan 17 tahun, sementara Aceh lebih lama lagi, yaitu 21 tahun. Untuk haji plus, masa tunggunya tidak selama haji reguler, kurang lebih 3 – 7 tahun.

  1.       Konsumsi
Masalah konsumsi selalu menjadi perhatian terbesar ke mana pun dan di mana pun Anda berada, termasuk saat berhaji. Untuk jamaah haji plus, urusan makanan ini sudah otomatis diurus oleh pihak hotel tempat mereka menginap. Menunya pun variatif, jamaah bisa memilih makanan yang disukainya. Sementara untuk haji reguler, urusan konsumsi selama 20 hari di Mekah ditanggung sendiri. Namun selama di Madinah dan di Armina (Arafah, Muzdalifah dan Mina), konsumsi diurus oleh maktab (pemondokan).

  1.       Penginapan
Letak penginapan selama berhaji sangat berpengaruh terhadap kelangsungan dan kenyamanan beribadah, baik saat di Masjidil Haram (Mekah) maupun di Masjid Nabawi (Madinah). Selama di Mekah, jamaah haji reguler ditempatkan di penginapan yang jaraknya 2 – 4 km dari Masjidil Haram. Sementara di Madinah, jamaah ditempatkan di pemondokan yang dekat dengan Masjid Nabawi, sehingga cukup berjalan kaki saja dari hotel. Sedangkan untuk jamaah haji plus, pihak penyelenggara menyediakan hotel yang jaraknya dekat dengan Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi Madinah. Dengan demikian, para jamaah haji plus bisa melaksanakan shalat lima waktu di masjid dan dapat sewaktu-waktu menjalankan kegiatan sesuai kemampuan dan kemauan.

  1.       Lamanya di Tanah Suci
Biasanya jika kita memakai paket wisata untuk berlibur, semakin lama waktu berlibur biaya akan semakin mahal. Namun saat pelaksanaan haji, justru sebaliknya. Semakin mahal Anda membayar, maka lamanya di Tanah Suci justru semakin singkat. Paket haji plus untuk 21 hari akan lebih murah dibanding paket haji plus untuk 14 hari. Sementara untuk haji reguler, jamaah berada di Tanah Suci selama 30 – 40 hari.

Menyiapkan Dana Haji
Besarnya biaya haji yang harus dikeluarkan serta lamanya masa tunggu membuat banyak orang kemudian melirik satu alternatif lain, yaitu umrah. Tentu saja ada perbedaan tata cara, rukun, syarat, juga ganjaran yang Allah janjikan. Namun, setidaknya bisa memuaskan rasa rindu berkunjung ke Tanah Suci.
Untuk umrah, biaya yang dibutuhkan tidaklah sebesar biaya haji. Kita juga bisa mendaftar dan berangkat kapan saja sesuai dengan ketersediaan dananya. Menurut perencana keuangan independen Ahmad Gozali, strategi mengumpulkan dana untuk umrah bisa lebih fleksibel dibanding haji. “Anda bisa investasi dalam bentuk dolar Amerika, saham, emas, reksa dana, atau sekadar menabung secara rutin setiap bulan pun bisa,” ujarnya.
Sementara untuk haji, kita harus menyiapkan dana sebagai setoran awal sebesar Rp25 juta dan pelunasan sisanya ketika sudah tiba giliran keberangkatan. Menurut Gozali, investasi yang tepat untuk mengumpulkan biaya haji reguler adalah dengan emas, saham, dan reksa dana. Begitu pula untuk pelunasan setelah setoran awal, investasi sebaiknya jalan terus melalui instrumen-instrumen tadi. Masa tunggu yang lumayan lama semestinya cukup memberikan waktu bagi kita untuk berinvestasi.
“Ingat, kita bukan hanya perlu menyiapkan biaya pelunasan, tapi juga uang saku tambahan, biaya komunikasi, biaya dam (denda) sebagai antisipasi, biaya berkurban jika ingin berkurban di Tanah Suci, biaya oleh-oleh, dan biaya untuk kebutuhan keluarga yang ditinggal di Tanah Air,” tegas Gozali.
Bagaimana dengan haji plus? Gozali berpendapat, untuk haji plus lebih tepat berinvestasi dengan dolar Amerika (USD) dan emas. Saat ini setoran awal haji plus sebesar 4.500 USD dan sisanya sebesar 4.500 USD dilunaskan setelah tiba giliran keberangkatan. “Karena biayanya dipatok dengan dolar, menabung dalam bentuk dolar akan lebih mudah menghitung dan mencapai targetnya,” ujar penulis buku laris Habiskan Saja Gajimu ini. Gozali pun menyarankan, jika harus menunggu 3 tahun, targetkan menabung minimal 1.500 USD per tahun.

Aida Hanifa
           
Sumber: Majalah Ummi, Bahasan Utama 3 09-XXVIII September 2016
 Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/tang-ting-tung-sebelum-berhaji-yuk-nabung.html

Rasulullah Melarang Kita Menghina dan Mencela Orang Kafir?

Sahabat Ummi, pernah bertemu orang yang ilfil dengan Islam? Meskipun tidak sampai ikutan melabeli Islam sebagai agama teroris, tapi ada sebagian orang yang masih ‘alergi’ terhadap Islam karena menganggap Islam sebagai agama yang tidak ramah dan penuh kekerasan. Hmm… Kasihan yaa, padahal Islam begitu indah, eh tapi barangkali memang ada yang salah dengan cara dakwah kita?



Dakwah akan meresap kuat ke dalam sanubari manusia ketika diikuti seruan kelembutan dan keindahan yang dijadikan sebagai jalan dakwah, pegangan kehidupan, dan pandangan dasar dalam menjalani hidup ini. Lantaran seruan lembut itu, tumbuhlah cinta dan penerimaan hati dengan penuh ketulusan. Muaranya adalah membaiknya hubungan kemasyarakatan (tahsinul 'alaqatul ijtima'iyyah).



Namun, meskipun begitu banyak ayat dan hadits yang berbicara tentang cinta, kasih sayang, dan kelembutan, mengapa yang kerap muncul ke permukaan, khususnya di media-media, adalah potret Islam yang bertolak belakang dari hal tersebut?



Saat ini tak sedikit orang yang sibuk menampilkan Islam dalam wajah sangar, penuh kebencian, dan caci-maki. Bahkan tak berhenti sampai di situ saja, mereka juga sibuk membagi-bagi kaum Muslimin menjadi golongan neraka dan surga berdasarkan kemauan mereka sendiri.



Kita tahu, kedamaian tidak pernah terbangun di atas kebencian. Kasih sayang tak akan mungkin tumbuh di atas bentakan dan cacian. Persatuan tidak mungkin tercipta di atas pemisahan-pemisahan berdasarkan eksklusivitas. Kedamaian, kasih sayang, dan persatuan hanya akan terwujud atas dasar cinta, kelembutan, apresiasi, dan kesatuan rasa.



Sudah waktunya bagi kita semua untuk mengkaji pesan-pesan inti dari Islam dan akhlak-akhlak utama dari Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam sang panutan. Saatnya kita membaca ulang kearifan sejarah kita sendiri. Jangan tunda-tunda lagi untuk memungut dan mengenakan mutiara-mutiara hikmah yang terserak lantas dibuang dan disia-siakan sebagaimana yang terjadi belakangan ini.



Jauhi Panggilan Buruk



"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk,"(QS An-Nahl [16]: 125).



Banyak pendakwah dan organisasi Islam di seluruh dunia menjalankan kegiatan-kegiatan dakwah mereka berdasarkan ayat ini. Empat kata kunci yang harus digarisbawahi dalam ayat ini adalah kata ‘serulah’, ‘manusia’, ‘pelajaran yang baik’, dan ‘cara yang baik’. Bagi mereka, mengundang seseorang untuk masuk Islam berarti mengajak dengan lembut, mengulurkan kepedulian, menampakkan kesantunan, dan sebagainya.



Kita tidak bisa mengundang seorang non-Muslim untuk memahami tentang Islam, atau belajar Islam, atau membuat dia tertarik kepada Islam, dengan memanggilnya ‘kafir’, ‘manusia najis’, atau panggilan-panggilan buruk lainnya. Rasulullah bahkan tidak membolehkan para penyembah berhala—yang bukan saja menentang ajaran Rasulullah, tapi juga melemparinya dengan kotoran unta, mengasingkan umat Muslim selama tiga tahun, membunuh sahabat-sahabat terdekatnya, dsb—dicela, dalam sebuah puisi bernada sarkastik oleh Hassan bin Tsabit yang mengatakan, “Bagaimana kalau sebenarnya aku bersaudara dengan mereka?” (HR Bukhari, dari Aisyah ra).



Kita harus mengikuti akhlak Nabi shalallaahu ‘alaihi wassalam dengan tidak menghina orang lain. Karena itu kita harus memiliki akhlak yang baik, seperti yang diajarkan oleh Nabi sendiri. Dengan demikian kita menjadi penyeru-penyeru Islam yang terbaik, dan memang begitulah seharusnya sifat para dai sejati.



Seorang Muslim yang membuat nama Islam menjadi buruk dengan berperilaku ekstrem, keras, emosinya tinggi, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, berpikiran sempit, dogmatis, dan hal-hal lain yang tidak diajarkan dalam Islam, hanya akan membuat pekerjaan para dai menjadi lebih sulit. Orang-orang seperti itu hanya membuat nama Islam semakin buruk di zaman sekarang, di mana banyak orang yang berpandangan negatif terhadap Islam.



Kita juga harus mengingat perintah dari Allah kepada Nabi Musa alaihissalam dan Harun alaihissalam,“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut,” (QS Thaha [20]: 43-44).



Bahkan kepada Fir’aun—yang membunuh banyak orang tak bersalah dengan merebusnya dalam ketel minyak yang mendidih—yang telah mengaku dirinya sebagai tuhan, kita harus berbicara dengan lemah-lembut, apalagi kepada orang-orang yang lebih baik daripadanya.



Kata penting berikutnya adalah ‘manusia’. Ini berarti semua manusia tanpa terkecuali. Setiap non-Muslim adalah calon mualaf yang bisa mendapatkan hidayah meskipun mereka sangat anti-Islam atau berperangai buruk. Ingatlah bahwa Umar bin Khattab radiyallaahu ‘anhu dan Khalid bin Walid radiyallaahu ‘anhu, sebelum mereka berdua masuk Islam, keduanya adalah orang-orang yang sangat memusuhi Islam. Namun, akhlak mereka saat memeluk iman Islam menjadi bercahaya.



Jadi jelas, seorang Muslim tidak boleh terlalu memilih-milih dengan siapa dia berinteraksi.




Sumber: Majalah Ummi, Mutiara Dakwah 05-XXVIII Mei 2016

Kontributor: Aidil Heryana, S.Sos.I

Mau berlangganan Majalah Ummi? Hubungi: Pak Dedi 081546144426

 Foto ilustrasi : Google

Sumber : http://www.ummi-online.com/rasulullah-melarang-kita-menghina-dan-mencela-orang-kafir.html

Bersihkan Hati Dengan Istighfar dan Optimisme

Di tengah perjalanan mengarungi padang pasir, Rasulullah bersama para sahabat berhenti sejenak. “Cari dan kumpulkan ranting-ranting kayu.”ujar Rasulullah kepada para sahabat.

Para sahabat tentu merasa heran, bagaimana mungkin mengumpulkan reranting kayu di tengah padang pasir.”Kalau mencari kayu ranting disini tentu tidak ada ya Rasulullah,”sahut salah satu di antara mereka.

“Cari dan kumpulkan ranting kayu.”Rasulullah kembali mengulang perintahnya.

“Bagaimana mungkin akan kita kumpulkan ranting kayu di padang pasir ini. Padahal pohonnya saja tidak tumbuh di sini.”

“Cari dan kumpulkan ranting kayu.” Lagi-lagi Rasulullah saw mengulang perintahnya.

Para sahabat pun mengais-ngais pasir ke sana kemari. Ada satu dua yang ditemukan dan dikumpulkan. Tampaknya angin menerbangkan reranting itu dari tempat yang jauh. setelah beberapa waktu mencari, ternyata ranting kayu bisa terkumpul banyak. Tak disangka.

“Wahai sahabat, berkumpulah kemari.”Seru Rasulullah memanggil.

Para sahabat pun berkumpul mendekat dan siap mendengar intruksi atau apa pun itu yang dikatakan dan diperintahkan Rasulullah.

“Seperti inilah dosa-dosamu setiap hari. Sepertinya terlihat tidak ada, padahal kelak di hadapan Allah swt ternyata terkumpul banyak.

Para sahabat terhenyak. Kini mereka paham maksud perintah Rasulullah tersebut.



Baca juga: Inilah Istighfar yang Paling Utama



Ada dua pelajaran yang bisa kita ambil dari riwayat tersebut.

Yang pertama, hendaknya kita harus selalu hati-hati terhadap dosa. Oleh karena itu, siapa pun kita, harus selalu berishtighfar dan memohon ampun kepada Allah terhadap dosa-dosa yang telah kita lakukan. Baik dosa yang kita sadari atau dosa yang tidak kita sadari.

Sahabat, kadang kita merasa bersih dari dosa dan merasa cukup dengan ibadah-ibadah yang telah kita lakukan. Tapi siapa yang tahu ada dosa yang tersembunyi yang tidak kita sadari, atau ada dosa yang terlewat dari taubat.

Atau mungkin kita merasa bahwa selama dosa-dosa besar tidak kita lakukan, maka dosa kecil akan mudah terhapus dengan amalan-amalan kita. tapi siapa yang tahu jika ternyata dosa-dosa kecil yang kita ‘dawamkan’ menumpuk sehingga menjadi dosa yang besar di hadapan Allah. Ya, seperti reranting kayu yang dikumpulkan para sahabat setelah mengais-ngais pasir, sebagaimana disebutkan tadi.

Pelajaran lain yang dapat kita tangkap, hendaknya kita jangan berkeluh kesah sebelum mencoba sesuatu yang seharusnya kita kerjakan. Mungkin saja kita melihat itu sulit, itu mustahil, itu tidak mungkin dilakukan karena berbagai alasan yang melatar belakanginya.

Kita berkeluh kesah, tapi belum mencobanya. Cobalah untuk memulai, barulah berkomentar dan mengambil kesimpulan. Jika memang sulit, alangkah lebih baiknya kembali memulai atau mengakali kenapa bisa sulit? Apa yang harus dilakukan sehingga berhasil.

Oleh karena itu, hendaknya kita selalu optimis dan yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita mencobanya.

Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha, begitu kata pepatah. Karena sejatinya, hukum sebab akibat itu ada. Kegagalan dan keberhasilan itu tergantung dari ikhtiar, tekad, kesabaran dan keyakinan. Tentunya dibarengi dengan ketawakalan kepada Allah.

Demikian. Semoga bermanfaat



Foto ilustrasi: google


Sumber : http://www.ummi-online.com/bersihkan-hati-dengan-istighfar-dan-optimisme.html

Viral, Seorang Muslimah yang Shalat Sambil Joget, Ternyata Faktanya Bikin Nangis

3 buah video yang diposting akun facebook Ummi Mutiara memperlihatkan ketika seorang wanita tengah menjalankan ibadah sholat.
Dalam video, ada yang aneh dari gerakan sholat wanita tersebut. Gerakan shalat yang dilakukan wanita itu tidak lazim dengan gerakan umumnya umat muslim melakukan ibadah shalat.

Dikutip dari akun instagram Palembang terkini, kejadian itu benar di Masjid Agung disudut ruangan Daarur Rahmah setelah mendapat konfirmasi dari akun Irma Palembang.

Namun sebuah akun anonym mengatakan bahwa wanita tersebut mengalami gangguan kejiwaan. Akun tersebut mengatakan bahwa wanita tersebut mengalami gangguan jiwa setelah ditinggal oleh suaminya.

"Seorang ibu yang menderita penyakit jiwa tetapi masih ingat untuk Sholat, ibu ini pernah menjadi TKI di arab dan setelah pulang kampung ibu ini di tinggal oleh suaminya dan mengalami depresi" tulis akun anonym di instagram.

Berikut salah satu videonya...

 
Video lainnya dapat anda lihat disini.

Astagfirullah.. Inilah 10 Pekerjaan Yang Rasulullah Sebut HARAM Tapi Sering Dilakukan.. No 4 dan 8 Paling Banyak Dilakukan

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Benar-benar akan datang kepada manusia suatu masa, pada saat itu orang tidak lagi mempedulikan dari mana ia mendapatkan harta kekayaan, apakah dari jalan yang halal ataukah jalan yang haram.1)

Musibah, bencana alam, keserakahan manusia, gaya hidup hedonis yang tamak dan rakus, semuanya merupakan pemicu munculnya ketidakseimbangan, baik pada alam maupun secara sosial. Dari sudut pandang sunnatullah, semua itu merupakan bentuk ujian yang Allah berikan kepada setiap manusia. Namun, dari sudut pandang human’s behaviour (perilaku manusia), maka semua musibah itu adalah akibat tingkah laku mereka.

Semua bencana itu akan berimbas pada problem kemanusiaan. Ekonomi merosot, persediaan pangan terancam, lahan pekerjaan menjadi sempit, sementara kebutuhan manusia terus berjalan dan cenderung melonjak, baik karena faktor pertambahan penduduk maupun berubah gaya hidup manusia yang cenderung materialistik.

Dalam kondisi seperti itu, sering kali manusia menjadi gelap mata manakala kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Perut yang lapar dan tuntuan hidup orang-orang yang ditanggungnya (anak dan istri), mau tidak mau akan memaksa mereka untuk menempuh jalan yang mungkin saja berujung pada sikap menghalalkan segala cara; yang terpenting perut bisa diganjal, anak dan istri tidak lagi menangis kelaparan dan kebutuhannya terpenuhi.

Inilah kondisi di mana hari ini kita hidup. Faktor kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin tidak dipungkiri menjadi pemicu lahirnya keinginan manusia untuk mencari keadilan dengan cara-cara yang haram.

Orang-orang kaya yang hobi pamer kekayaan dan sering menjual gaya hidupnya kepada orang-orang miskin, ‘telah menambah dorongan mereka untuk melakukan apapun asal mereka bisa menikmati seperti yang selama ini mereka tonton. Maka, betapa tepatnya kondisi saat ini dengan apa yang dinubuwatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam riwayat di atas.
Rezki Allah itu sangat luas
Pameo klasik yang mengatakan bahwa ‘mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal’ jelas merupakan sebuah alasan yang klise dan absurd, meski realitanya demikian. Sesungguhnya mata pencaharian itu sangat banyak ragamnya. Selama ia merupakan sesuatu yang halal, baik, dan tidak melanggar ketentuan syariat, maka ia adalah pekerjaan yang diberkahi.

Seorang muslim boleh melakukannya. Apabila pekerjaan tersebut berupa sebuah kemaksiatan, kemungkaran, kezaliman, kecurangan, penipuan, atau pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan umum syariat, maka ia adalah pekerjaan yang haram, meskipun menghasilkan harta kekayaan dalam jumlah yang banyak. Seorang muslim wajib menjauhi dan meninggalkannya.
Hindari pekerjaan-pekerjaan ini:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memperingatkan umatnya untuk mewaspadai pekerjaan-pekerjaan yang haram ini. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan salah satu tanda rusaknya akhlak umat manusia dengan ketidakpedulian mereka terhadap cara mencari harta kekayaan. Di antara mata pencaharian yang dilarang adalah:

1. Pekerjaan yang berupa kesyirikan dan sihir, seperti perdukunan, paranormal, ‘orang pintar’, peramal nasib, dan hal-hal yang sejenis dan semakna dengannya.

2. Pekerjaan yang berupa sarana-sarana menuju kesyirikan, seperti menjadi juru kunci makam, membuat patung, melukis gambar makhluk yang bernyawa, dan hal-hal yang sejenis dan semakna dengannya.

3. Memperjual belikan hal-hal yang diharamkan oleh syariat, seperti bangkai, babi, darah, anjing, patung, lukisan makhluk yang bernyawa, minuman keras, narkotika, dan lain sebagainya.

Dari Abu Mas’ud al-Anshari ra bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang harta dari harga penjualan anjing, upah wanita pezinaan, dan upah seorang dukun. 2)

Dari Abu Juhaifah ra ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang harta hasil penjualan darah, penjualan anjing, upah budak perempuan yang dipekerjakan untuk berzina (upah mucikari). Beliau melaknat perempuan yang membuat tato, perempuan yang meminta ditato, orang yang memakan harta riba, orang yang memberikan riba, dan orang yang membuat patung.” 3)

Dari Jabir bin Abdillah ra bahwasanya ia telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda di Mekah pada tahun penaklukkan Mekah: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan penjualan khamer, bangkai, babi, dan patung.” Maka ada seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang menjual lemak bangkai, karena ia bisa digunakan untuk mengecat perahu, meminyaki kulit, dan orang-orang biasa mempergunakannya untuk minyak lampu penerangan?” Maka beliau menjawab: “Tidak boleh menjualnya, ia tetap haram.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantas bersabda: “Semoga Allah memerangi kaum Yahudi. Ketika Allah mengharamkan atas mereka lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu menjualnya dan memakan harganya.”4)

Dari ‘Aisyah radiyalaahu ‘anhuma ia berkata: “Ketika diturunkan ayat-ayat di akhir-akhir surat Al-Baqarah tentang riba (ayat 275 dst) , Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar ke masjid dan membacakannya kepada masyarakat. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian mengharamkan perdagangan khamer, minuman keras. 5)

4. Memakan harta riba.

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan tinggalkanlah riba yang masih ada pada diri kalian, jika kalian benar-benar beriman. Jika kalian tidak mau melakukannya, maka terimalah pengumuman perang dari Allah dan Rasul-Nya. ” (QS Al-Baqarah [2] :278-279)

5. Menimbun bahan-bahan perdagangan di saat harganya murah dan dibutuhkan oleh masyarakat dengan tujuan meraih keuntungan yang berlipat ganda pada saat harganya melambung tinggi.

Dari Ma’ mar bin Abdullah al-Anshari ra dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
“Barang siapa menimbun, ia telah berbuat salah.” Dalam lafal yang lain: Tidak ada orang yang melakukan penimbunan selain orang yang berbuat salah.“ 6)

Dari Umar bin Khathab ra , ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa menimbun bahan makanan yang dibutuhkan oleh kaum muslimin, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menimpakan penyakit lepra dan kebangkrutan kepadanya." 7)

6. Perjudian.

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamer (minuman keras), perjudian, berkurban untuk berhala-berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan, maka jauhilah oleh kalian perbuatan-perbuatan tersebut agar kalian mendapatkan keberuntungan.

Sesungguhnya setan bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran meminum khamr dan melakukan perjudian dan menghalang-halangi {melalaikan} kalian dari dzikir kepada Allah dan dari shalat. Maka mengapa kalian tidak mau berhenti? (QS Al-Maidah [5]: 90-91).

7. Memakan harta anak yatim secara dzalim.

Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). (QS An-Nisa’ [4): 10).

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian. (QS An-Nisa’ [4]: 29).

8. Mencuri, mencopet, menjambret, dan merampok.

Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan, maka potonglah (pergelangan) tangan-tangan mereka sebagai hukuman dari Allah atas kejahatan mereka. (QS Al-Maidah [5]: 38).

9. Mengurangi timbangan dan takaran.

Kecelakaan bagi orang-orang yang melakukan kecurangan dalam timbangan, yaitu kalau menakar milik orang lain untuk dirinya, ia meminta disempurnakan. Namun, apabila mereka menakar barang dagangan mereka untuk orang lain, ia merugikan orang lain (dengan mengurangi takaran). (QS Al-Muthaffifin: 1-3).

10. Korupsi dan penipuan terhadap rakyat.

Dari Ma’qil bin Yasar ra ia berkata: Saya mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun yang diberi amanat oleh Allah untuk menjadi pemimpin sebuah masyarakat lalu ia tidak memimpin mereka dengan ketulusan (kejujuran), kecuali ia tidak akan mendapatkan bau surga.” Dalam lafal Muslim: “… kecuali Allah mengharamkan surga atasnya.“ 8)

11. Menunda-nunda pembayaran gaji buruh dan karyawan atau mengurangi hak-hak mereka.

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ‘Ada tiga golongan yang Aku menjadi musuh mereka; orang yang memberikan sumpah setia dengan menyebut nama-Ku lalu ia mengkhianati, orang yang menjual orang merdeka lalu ia memakan hasil penjualannya, dan orang yang mempekerjakan seorang buruh lalu si buruh menuntaskan pekerjaannya sementara ia tidak mau membayarkan upahnya.” 9)

(Sumber: Akhir Zaman: Abdur Rahman Al-Wasithi, Dari: 100 Hadits Tentang Nubuat Akhir Zaman, Az-Zahra Mediatama, Hal. 102-108)

1. HR. Bukhari : Kitab al-buyu’ bab man lam yubali min haitsu kasaba al-mal no. 2059 bab qauluhu ta’ala Ali Imran : 130 no. 2083, An-Nasa’i dan Ahmad. ‘

2. HR. Bukhari : Kitab al-buyu’ bab tsaman al-kalb no. 2237,.

3. HR. Bukhari : Kitab al-buyu’ bab mukil al-riba no. 2086, bab tsaman al-kalb no. 2238.

4. HR. Bukhari : Kitab al-buyu’ bab bai’i al-maitah wa al-ashnam no. 2236? 90 HR. Bukhari : Kitab al-shalat bab tahrim tijarat al-khamr fi al-masjid no. 459.

5. HR. Muslim: Kitab al-musaqat bab tahrim alihtikar fi al-aqwat no. 1605,.

6. HR. Ibnu Majah : Kitab al-tijarah bab al-hukrah wa al-jalb no. 2155. AI-Hafizh Ibnu Hajar berkata: sanadnya hasan.

7. HR. Bukhari : Kitab al-ahkam bab man ustur’iya ra’iyah falam yanshah lahum no. 7150 Muslim: Kitab al-imarah bab fadhilat al-imam al-‘adil wa ‘uqubat al-jaair no. 1831. ‘ .

8. HR. Bukhari: Kitab al-buyu’ bab itsm man ba’a hurran no. 2227.

Puasa Tapi Tidak Shalat, Bolehkan Salah Satu Kewajiban Di Gantikan Dengan Kewajiban Yang Lainnya ?

Pertanyaan : apa hukumnya orang yang berpuasa tapi meninggalkan shalat ? apakah puasanya sah ?

Jawaban : yang benar, bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja hukumnya kufur akbar, puasa dan ibadah ibadah  lainnya tidak sah sampai ia bertobat kepada allah subhanahu wa ta'ala,


Berikut keterangan Imam Ibnu Utsaimin tentang status puasa orang yang meninggalkan shalat. Beliau menjelaskan,

“Orang yang meninggalkan shalat, puasanya tidak sah dan tidak diterima. Karena orang yang meninggalkan shalat adalah orang kafir, telah murtad keluar dari islam. Berdasarkan firman Allah ta’ala,

فَإِن تَابُواْ وَأَقَامُواْ الصَّلَوٰةَ وَءٰاتَوُاْ الزَّكَوٰةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الأَيَـٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Jika mereka bertaubat, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat maka mereka adalah saudara kalian seagama. Kami menjelaskan ayat-ayat untuk kaum yang mengetahui.” (QS. At-Taubah: 11)

Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة

“Batas antara seorang muslim dengan kesyirikan atau kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim 82)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر

“Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Nasai 463, Turmudzi 2621, Ibn Majah 1079 dan yang lainnya, hadis shahih).

Kemudian, Imam Ibnu Utsaimin menegaskan bagaimana sikap sahabat terhadap orang yang meninggalkan shalat,

ولأن هذا قول عامة الصحابة إن لم يكن إجماعاً منهم، قال عبدالله بن شقيق رحمه الله وهو من التابعين المشهورين: “كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم لا يرون شيئاً من الأعمال تركه كفر غير الصلاة”، وعلى هذا فإذا صام الإنسان وهو لا يصلي فصومه مردود غير مقبول، ولا نافع له عند الله يوم القيامة، ونحن نقول له: صل ثم صم، أما أن تصوم ولا تصلي فصومك مردود عليك لأن الكافر لا تقبل منه العبادة.

Kesimpulan ini (meninggalkan shalat adalah kafir) merupakan pendapat umumnya sahabat, jika disebut kesepakatan diantara mereka. Abdullah bin Syaqiq rahimahullah – seorang tabiin yang terkenal – mengatakan,

“Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menilai ada satu amal yang jika ditinggalkan menyebabkan kafir, selain shalat.”

Oleh karena itu, jika ada orang yang puasa, namun dia tidak shalat maka puasanya tertolak dan tidak diterima, tidak ada manfaat untuknya di sisi Allah pada hari kiamat. Karena itu, kita nasehatkan kepada orang ini, ‘Kerjakan shalat dan laksanakan puasa. Jika anda puasa namun tidak shalat, puasa anda tertolak, karena ibadah orang kafir, tidak diterima.’


Sumber : http://www.wajibbaca.com/2016/06/puasa-tapi-tidak-shalat-bolehkan-salah.html

Apakah Cintamu Padanya Masih Seperti Pertama Bertemu? Coba Uji Dengan 3 Pertanyaan Ini

Setiap hubungan pasti punya masa-masa up and down, apalagi jika hubunganmu sudah berjalan lama. Tapi kamu pasti ingin tahu kan, apakah hubunganmu selama ini sudah benar, sehat atau justru mencapai kata putus?

Suzanne Degges-White, PhD, penulis Toxic Friendships sekaligus konsultan hubungan asmara mengungkapkan dalam Psychology Today bahwa ada tiga pertanyaan yang bisa diajukan untuk mengukur seberapa baik hubungan cintamu saat ini.


1. Apakah memenuhi kebutuhan pasangan membuatmu puas dan senang atau justru kesal dan merasa dimanfaatkan?

Setiap hubungan cinta pasti membutuhkan take and give, dan terkadang kepentingannya juga jadi kepentinganmu. Saat kamu tulus membantu dan meringankan bebannya, itulah rasa cinta yang alami.


2. Apakah hubunganmu selama ini memberi hasil dan manfaat untuk hidupmu?

Apakah kamu menemukan bahwa kamu dan dia berada di jalan yang sama? Jika kalian saling melengkapi dan mendukung satu sama lain, dia mampu membawamu ke jalan yang lebih baik dan kamu menjadi pribadi yang lebih baik di mata teman dan keluargamu, ini tanda kamu sudah bersama pasangan yang benar.

3. Apakah kamu mengharapkan pengorbananmu terbalaskan?

Terkadang ketika membantu, kamu ingin kebaikan itu dikembalikan atau mengharapkan pamrih. Jika cintamu seperti ini terhadapnya, kalian tidak dalam hubungan yang baik. Umumnya, kamu dan dia sudah seperti satu. Pengorbanan yang kamu lakukan akan menjadi bagian kewajibanmu dan hak bagi dia.

Jika kalian belum menemukan jawaban yang baik untuk ketiga pertanyaan itu, mungkin kalian berdua butuh waktu untuk memperbaiki hubungan cinta selama ini.